Segitiga 017 (Ceritanya)

Aku menelan ludah. Ibu menutup mulutnya. Aku sangat terkejut.

“Eng.. eh.. eng… Kenapa Jeng keliatannya kaget banget?”

Kepalaku tiba-tiba pusing.

“Eh.. Eng.. ada apa? Bu?”

“Kami kaget… terusin aja ceritanya…” kata ibu. Kepalaku berputar-putar. Sungguh, aku tidak menyangka, apa benar yang Dian Bencis ini katakan? Sang Guru bilang kalau Dian Bencis ini pembohong. Apa dia sekarang sedang berbohong? Lalu yang memberitahu nama Aldi Rasya Purwanto itu kan Sang Guru setelah melihat nisan… AH!

“Ke.. kenapa, Jeng?”

Aku menggenggam tangan Dian Bencis dengan sangat keras. “Katakan, kamu enggak berbohong kan?”

Dian Bencis menggeleng takut-takut.

“Apa Aldi Rasya Purwanto itu anak Sang Guru???”

Dian Bencis menelan ludah. “Ya….”

Aku menghempaskan tubuhku. Ya Tuhan! Ya Tuhan! Aku sudah tahu ini semua… semuanya… Ya Tuhan…!!!

“Kamu enggak apa-apa, Na?” tanya ibu melihatku memegang kepalaku berkali-kali. “Jangan dipukul-pukul kepalanya begitu… “

Lalu entah kenapa air mataku mengalir.

(more…)

November 10, 2008

segitiga 016 (Nama Lahir)

“.. Ternyata.. pasien yang dirawat itu emang sering bertingkah aneh, kata perawat sini..”

Ibu sedang menelepon Faiz, dan suaranya di-loud speaker sehingga aku bisa ikut mendengar dan bicara.

“Aneh? Maksudnya aneh?”

“Maksudnya, sering tiba-tiba tidak bernapas terus tiba-tiba jantungnya berhenti, padahal sebenarnya dia masih hidup. Perawat sini bilang, kalau si.. siapa itu namanya…”

“Ariel…” selaku.

“Ya, Ariel itu memang sepertinya sudah sembuh total, tapi dia terus cari-cari alasan supaya masih tetap dirawat disini. Sepertinya, otaknya, apa ya, yang bisa mengatur seluruh tubuhnya semaunya, misalnya, bisa bikin jantungnya berhenti atau napasnya berhenti.. Jadi bukan karena penyakit…”

“Oh, jadi begitu… Lalu, benda milik Na ketemu?”

Kini giliranku yang bicara. “Tidak, Pak. Malahan ketemunya foto SD. Foto tahunan SD dulu, ternyata kamu di foto itu berangkulan dengan kembar ketiga, Pak..”

Diujung telepon, Faiz terdiam. Dia tidak menyahut. Pasti Faiz menyembunyikan sesuatu.

“Lebih baik, bapak kemari, jadi bisa liat fotonya..”

“Masih banyak urusan kafe yang masih harus aku pegang dulu sendiri disini, jadi mungkin dalam dua hari kedepan, aku tidak bisa kesana..”

Aku dan ibu saling berpandangan.

“Lalu, kamu punya pandangan, siapa yang mengambil benda kamu itu?”

“Enggak.. tapi dulu kan Rasya pernah memberiku buku gambarnya, salah satu gambar dalam buku gambarnya tiba-tiba lenyap!”

“Gambar? Lenyap?”

“Ya, gambar yang lenyap adalah gambar kakek tua berjubah oranye..”

(more…)

October 27, 2008

Previous Posts


Categories

Top

stories

traveller

Feeds

meta

all my stories

this is my stories that comes out from my odd brain to my finger. read it. imagine it. enjoy it.